Selama puluhan tahun, Yogyakarta identik dengan kota pelajar. Narasi ini begitu kuat hingga banyak orang otomatis menganggap kampus-kampus terbaik Indonesia pasti berpusat di sana. Namun dalam perkembangan terbaru dunia pendidikan tinggi, peta keunggulan kampus nasional mulai bergeser secara signifikan. Fakta menariknya: kampus-kampus dengan peringkat unggul dan reputasi riset terkuat justru banyak berada di Jawa Barat dan Jawa Timur.
Perubahan ini bukan kebetulan. Ia lahir dari transformasi strategi, investasi riset jangka panjang, serta orientasi global yang lebih agresif dibandingkan sekadar mengandalkan citra historis sebagai kota pelajar.
Jawa Barat: Mesin Riset dan Inovasi
Provinsi Jawa Barat kini menjelma sebagai pusat kekuatan akademik baru. Kampus-kampus di wilayah ini unggul dalam:
- Produktivitas riset internasional
- Kolaborasi dengan industri dan mitra global
- Reputasi sains, teknologi, dan inovasi
Lingkungan Jawa Barat yang dekat dengan pusat industri, teknologi, dan kebijakan nasional membuat kampus-kampusnya lebih cepat beradaptasi dengan tuntutan global. Riset tidak berhenti di jurnal, tetapi berlanjut ke inovasi, paten, dan kebijakan publik.
Kampus-kampus Jabar dikenal berani fokus pada bidang unggulan—bukan mencoba kuat di semua lini. Pendekatan ini membuat dampak riset lebih terukur dan relevan secara internasional, yang kemudian tercermin dalam pemeringkatan global.
Jawa Timur: Konsistensi dan Skala Akademik
Sementara itu, Jawa Timur menunjukkan keunggulan lewat konsistensi jangka panjang. Kampus-kampus di wilayah ini unggul karena:
- Skala riset besar dan berkelanjutan
- Program pascasarjana yang kuat
- Keterlibatan mahasiswa dalam produksi riset
Jawa Timur berhasil membangun ekosistem akademik yang tidak bergantung pada figur tertentu. Riset berjalan sebagai sistem, bukan proyek individual. Inilah salah satu faktor utama mengapa kampus-kampus di Jatim stabil di peringkat unggul—baik nasional maupun internasional.
Selain itu, banyak riset di Jawa Timur berangkat dari isu lokal seperti kesehatan masyarakat, pangan, dan lingkungan, lalu dikembangkan dengan kerangka global. Pendekatan ini membuat riset tidak hanya relevan, tetapi juga banyak disitasi.
