Universitas pada hakikatnya lahir sebagai dapur ilmiah ruang tempat ide dimasak, pertanyaan dipertajam, dan pengetahuan baru dilahirkan. Di sanalah rasa ingin tahu dirawat, kegagalan diterima sebagai bagian dari proses, dan kebenaran dicari dengan disiplin metodologis. Namun dalam realitas pendidikan tinggi hari ini, tak sedikit kampus yang perlahan bergeser menjadi “pabrik output”: sibuk mengejar target publikasi, akreditasi, ranking, hingga setoran administratif. Orientasi yang terlalu metrik-sentris ini berisiko menggerus ruh akademik yang seharusnya menjadi napas universitas.
Ketika Target Mengalahkan Makna
Metrik kinerja jumlah publikasi, sitasi, skor akreditasi sejatinya berguna sebagai alat ukur. Masalah muncul saat metrik menjadi tujuan utama. Dosen terdorong mengejar kuantitas tulisan, mahasiswa dikejar kelulusan cepat, dan riset cenderung dipilih yang “aman” serta cepat menghasilkan luaran. Akibatnya, riset dasar (basic research) yang memerlukan waktu panjang dan kesabaran sering tersisih. Padahal, banyak terobosan besar dalam sejarah sains lahir dari penelitian jangka panjang yang berangkat dari rasa ingin tahu murni, bukan dari target KPI.
Kampus sebagai Ruang Aman untuk Gagal
Ilmu pengetahuan maju melalui percobaan, kesalahan, koreksi, dan replikasi. Kampus idealnya menyediakan ruang aman untuk gagal tempat mahasiswa dan peneliti bisa menguji hipotesis tanpa takut “dicap tidak produktif” saat hasilnya negatif. Jika logika pabrik terlalu dominan, kegagalan dianggap pemborosan. Ini berbahaya, karena inovasi sejati hampir selalu melewati fase salah jalan. Budaya akademik yang sehat menghargai proses: desain riset yang rapi, data yang transparan, dan diskusi kritis bukan semata hasil akhir yang “terlihat bagus”.
Dosen Muda, Budaya Riset, dan Godaan Skor
Dosen muda sering menjadi motor perubahan. Energi dan ide segar mereka penting untuk menyuburkan dapur ilmiah. Namun ketika sistem insentif hanya mengganjar angka, dosen muda rentan terjebak pada strategi “aman skor”: memilih topik yang sedang tren, jurnal yang cepat tembus, atau kolaborasi instan yang dangkal. Kampus perlu memperkuat mentoring lintas generasi agar dosen muda berani menggarap riset mendalam, interdisipliner, dan relevan dengan problem lokal. Riset kelas dunia tidak hanya soal tembus jurnal bereputasi, tetapi juga bermakna bagi konteks masyarakat.
