Rehabilitasi pascabencana adalah fase krusial yang menentukan apakah masyarakat terdampak bisa kembali bangkit dengan cepat atau justru terjebak dalam pemulihan yang berkepanjangan. Di wilayah rawan bencana seperti Aceh, proses rehabilitasi tidak cukup hanya mengandalkan bantuan pemerintah dan relawan. Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) menegaskan bahwa peran kampus dan perguruan tinggi menjadi kunci penting dalam mempercepat pemulihan pascabencana di Aceh. Pernyataan ini disorot dalam pemberitaan Jawa Pos, yang menekankan bagaimana kolaborasi pemerintah dengan dunia akademik memberi dampak nyata di lapangan.
Kampus sebagai Pusat Ilmu yang Turun ke Lapangan
Selama ini kampus sering dipersepsikan sebagai ruang teori. Namun dalam konteks rehabilitasi bencana, perguruan tinggi justru menjadi pusat solusi praktis. Dosen dan peneliti dari berbagai disiplin ilmu terlibat langsung dalam pemetaan kerusakan, kajian risiko, hingga perancangan rekomendasi teknis. Ahli geologi dan teknik sipil membantu menilai kelayakan bangunan, sementara akademisi sosial memetakan dampak psikologis dan kebutuhan sosial warga terdampak. Kolaborasi lintas disiplin inilah yang membuat intervensi lebih tepat sasaran.
Data Akurat untuk Kebijakan yang Tepat
Kemendagri menyoroti pentingnya data primer yang akurat sebagai fondasi kebijakan rehabilitasi. Tim kampus berperan mengumpulkan data lapangan—mulai dari kondisi rumah, fasilitas umum, hingga kebutuhan dasar warga. Data ini kemudian diolah secara ilmiah untuk menjadi rekomendasi kebijakan yang lebih presisi. Tanpa data yang kuat, program rehabilitasi berisiko tidak sesuai kebutuhan nyata masyarakat. Kehadiran kampus membantu menjembatani jurang antara kebijakan di atas kertas dengan realitas di lapangan.
Rehabilitasi Bukan Sekadar Bangunan
Pascabencana, pemulihan tidak berhenti pada membangun kembali rumah dan jalan. Ada aspek sosial, ekonomi, dan psikologis yang tak kalah penting. Perguruan tinggi berperan mengembangkan program pendampingan trauma (trauma healing), pendampingan sekolah untuk anak-anak terdampak, serta pelatihan keterampilan bagi warga agar kembali produktif secara ekonomi. Pendekatan ini sejalan dengan pandangan Kemendagri bahwa rehabilitasi harus memulihkan kehidupan masyarakat secara utuh, bukan hanya infrastrukturnya.
