Solidaritas dunia pendidikan kembali teruji ketika bencana alam melanda sejumlah wilayah di Sumatera Utara dan Aceh. Banjir dan longsor yang terjadi akibat cuaca ekstrem tidak hanya merusak infrastruktur, tetapi juga mengguncang kehidupan ribuan warga. Menjawab kondisi darurat tersebut, Konsorsium Perguruan Tinggi Negeri bergerak cepat menyalurkan bantuan kemanusiaan sebagai wujud kepedulian dan tanggung jawab sosial.
Gerak Cepat dari Kampus untuk Kemanusiaan
Sejak laporan dampak bencana diterima, Konsorsium PTN melakukan koordinasi lintas kampus. Langkah ini memastikan bantuan yang disalurkan tepat sasaran dan sesuai kebutuhan di lapangan. Melalui sinergi antar-PTN, bantuan logistik mulai dari bahan pangan, air bersih, selimut, obat-obatan, hingga perlengkapan kebersihan dikemas dan diberangkatkan ke titik-titik terdampak.
Tak hanya logistik, konsorsium juga mengirim relawan mahasiswa dan tenaga medis kampus. Kehadiran mereka membantu proses evakuasi, pendataan korban, layanan kesehatan dasar, serta dukungan psikososial bagi warga, terutama anak-anak dan lansia.
Kolaborasi Lintas Kampus yang Efektif
Kekuatan Konsorsium PTN terletak pada jejaring dan koordinasi. Setiap kampus memiliki peran: ada yang fokus pada pengumpulan donasi, ada yang menyiapkan tenaga kesehatan, ada pula yang menangani distribusi dan komunikasi lapangan. Model kerja kolaboratif ini membuat proses penyaluran bantuan lebih cepat dan terukur.
Rektor dan pimpinan kampus menegaskan bahwa aksi kemanusiaan ini bukan sekadar respons insidental. Ia merupakan bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat, yang diwujudkan dalam situasi nyata ketika negara membutuhkan.
Menjangkau Wilayah Sulit Akses
Banjir dan longsor kerap memutus akses jalan. Tantangan ini dihadapi dengan pendekatan adaptif: memanfaatkan kendaraan medan berat, jalur air, serta koordinasi dengan aparat dan relawan lokal. Konsorsium PTN bekerja berdampingan dengan pemerintah daerah dan komunitas setempat untuk memastikan bantuan tiba di wilayah yang paling membutuhkan.
Di beberapa desa terpencil, relawan mahasiswa menjadi jembatan komunikasi antara warga dan tim bantuan. Pendekatan humanis ini mempercepat identifikasi kebutuhan spesifik—seperti obat tertentu, makanan bayi, atau perbaikan darurat fasilitas umum.
Penutup
Penyaluran bantuan oleh Konsorsium PTN untuk korban banjir dan longsor di Sumut dan Aceh adalah contoh nyata bagaimana dunia pendidikan berkontribusi di saat krisis. Dengan kolaborasi, kecepatan, dan komitmen berkelanjutan, kampus membuktikan perannya sebagai agen perubahan sosial.
