Dunia pendidikan tinggi Indonesia tengah menghadapi tantangan serius. Di tengah euforia transformasi digital dan dorongan menuju Indonesia Emas 2045, muncul krisis baru yang diam-diam menggerogoti fondasi perguruan tinggi: penurunan jumlah mahasiswa secara signifikan. Fenomena “mahasiswa anjlok” bukan lagi isu sporadis di daerah tertentu, melainkan mulai terasa merata di berbagai wilayah. Dampaknya tidak main-main: sejumlah kampus, khususnya perguruan tinggi swasta kecil dan menengah, mulai berada di ambang penutupan massal.
Krisis ini bukan terjadi dalam ruang hampa. Ia merupakan akumulasi dari berbagai faktor struktural, demografis, ekonomi, hingga perubahan preferensi generasi muda terhadap pendidikan dan karier. Jika tidak ditangani secara serius, krisis mahasiswa ini berpotensi menimbulkan efek domino yang merugikan ekosistem pendidikan nasional secara luas.
Penurunan Mahasiswa: Gejala yang Kian Nyata
Beberapa tahun terakhir, banyak perguruan tinggi melaporkan penurunan jumlah pendaftar baru. Di sejumlah daerah, program studi tertentu bahkan kesulitan memenuhi kuota minimal. Kondisi ini terasa lebih berat bagi kampus swasta yang sangat bergantung pada uang kuliah mahasiswa sebagai sumber utama operasional.
Penurunan ini bukan hanya soal jumlah, tetapi juga kualitas input mahasiswa. Kampus harus bersaing ketat untuk menarik calon mahasiswa di tengah menurunnya minat melanjutkan pendidikan tinggi. Jika tren ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin sebagian kampus akan mengalami kesulitan membiayai dosen, infrastruktur, hingga kegiatan akademik dasar.
Faktor Demografi: Bonus yang Mulai Menyusut
Indonesia selama ini dikenal menikmati bonus demografi. Namun, dalam beberapa tahun ke depan, laju pertumbuhan usia produktif diperkirakan melambat. Penurunan angka kelahiran di beberapa wilayah mulai terasa dampaknya pada jumlah lulusan SMA/SMK yang melanjutkan ke perguruan tinggi.
Di daerah-daerah dengan tingkat urbanisasi tinggi, banyak keluarga muda memilih memiliki anak lebih sedikit karena faktor ekonomi dan gaya hidup. Konsekuensinya, “pasokan” calon mahasiswa ke kampus pun berkurang. Perguruan tinggi yang tidak siap beradaptasi dengan perubahan demografi ini akan menghadapi tekanan berat dalam mempertahankan keberlanjutan operasionalnya.
