Mendiktisaintek: Kampus Berperan dalam Percepatan Penanganan Sampah
Berita Kampus

Mendiktisaintek: Kampus Berperan dalam Percepatan Penanganan Sampah

Persoalan sampah di Indonesia bukan lagi isu pinggiran. Setiap hari, jutaan ton sampah dihasilkan dari aktivitas rumah tangga, industri, hingga ruang publik. Tumpukan sampah di TPA yang kian menggunung, pencemaran sungai, hingga sampah plastik yang bermuara ke laut menjadi gambaran nyata betapa kompleksnya masalah ini. Di tengah situasi tersebut, pernyataan Mendiktisaintek bahwa kampus harus berperan aktif dalam percepatan penanganan sampah menjadi pesan penting: perguruan tinggi tidak boleh hanya menjadi menara gading ilmu, tetapi juga motor perubahan sosial dan lingkungan.

Kampus sebagai Pusat Solusi, Bukan Sekadar Pengamat

Selama ini, kampus kerap dipandang sebagai pusat produksi pengetahuan: riset, publikasi, dan teori. Namun, krisis sampah menuntut peran yang lebih konkret. Kampus memiliki modal besar yang jarang dimiliki institusi lain secara lengkap, yaitu sumber daya manusia (dosen, peneliti, mahasiswa), infrastruktur riset, serta jejaring dengan pemerintah dan industri.

Melalui peran ini, kampus bisa menjadi laboratorium hidup (living lab) untuk solusi pengelolaan sampah. Artinya, kampus tidak hanya meneliti dari jauh, tetapi langsung menguji coba solusi di lingkungan nyata, mulai dari pengelolaan sampah internal kampus hingga kolaborasi dengan masyarakat sekitar. Dari sini, solusi yang dihasilkan menjadi lebih realistis, teruji, dan siap direplikasi.

Riset dan Inovasi Teknologi Pengelolaan Sampah

Percepatan penanganan sampah membutuhkan inovasi. Kampus berperan penting dalam mengembangkan teknologi pengolahan sampah, seperti:

  • Teknologi daur ulang material untuk plastik, kertas, dan logam agar lebih efisien dan bernilai ekonomi.
  • Pengolahan sampah organik menjadi kompos, biogas, atau energi alternatif.
  • Inovasi material ramah lingkungan, misalnya pengganti plastik sekali pakai berbasis biomaterial.
  • Sistem pemilahan sampah berbasis teknologi, seperti sensor atau aplikasi untuk memudahkan klasifikasi sampah di tingkat rumah tangga.

Kolaborasi Kampus, Pemerintah, dan Industri

Isu sampah terlalu besar jika ditangani sendirian. Di sinilah kampus berperan sebagai jembatan kolaborasi. Dengan pemerintah daerah, kampus bisa membantu merancang kebijakan berbasis riset, melakukan evaluasi program pengelolaan sampah, hingga pelatihan SDM pengelola TPA. Dengan industri, kampus bisa mendorong pengembangan teknologi daur ulang, desain kemasan ramah lingkungan, dan model bisnis ekonomi sirkular.

Related posts

Kemendagri Ungkap Peran Kampus Penting dalam Rehabilitasi Bencana di Aceh

admin

Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR): Pilar Pendidikan Bermutu di Tanah Pasundan

admin

Serunya Kehidupan Taruna di Kampus IPDN

For Android Users, Europe’s Google Ruling Leaves Unanswered Questions

admin

Berita Kampus Terkini UI: Inovasi, Riset, dan Mahasiswa

Rudi Saputra

Universitas Bimus Gelar Seminar Inovasi dan Teknologi 2024

admin