Dalam satu dekade terakhir, peta persaingan perguruan tinggi global berubah drastis. Kampus tidak lagi dinilai hanya dari luas gedung, jumlah mahasiswa, atau popularitas alumninya. Faktor penentu yang kini paling diperhitungkan dalam berbagai pemeringkatan internasional adalah mutu riset. Bagi kampus-kampus di Indonesia, inilah kunci utama untuk menembus—dan bertahan—di peringkat dunia.
Kesadaran ini semakin kuat seiring meningkatnya partisipasi universitas Indonesia dalam pemeringkatan global seperti QS World University Rankings, THE World University Rankings, dan ARWU. Satu benang merah dari seluruh metodologi tersebut jelas: riset berkualitas tinggi adalah fondasi reputasi akademik global.
Mengapa Riset Menjadi Penentu Utama Peringkat Dunia
Pemeringkatan internasional menilai riset dari berbagai aspek, antara lain:
- Jumlah dan kualitas publikasi ilmiah
- Dampak sitasi (citation impact)
- Kolaborasi internasional
- Reputasi akademik di mata peneliti global
Artinya, bukan sekadar banyak meneliti, tetapi meneliti hal yang relevan, bermutu, dan berdampak. Satu artikel di jurnal bereputasi tinggi sering kali bernilai lebih besar daripada puluhan publikasi di jurnal dengan dampak rendah. Bagi kampus Indonesia, ini menuntut perubahan paradigma: riset bukan sekadar kewajiban administratif dosen, melainkan mesin utama reputasi institusi.
Dari Kuantitas ke Kualitas
Pada fase awal, banyak kampus Indonesia mendorong peningkatan jumlah publikasi. Strategi ini penting sebagai langkah awal, tetapi tidak cukup untuk bersaing di level dunia.Â
- Kini, fokus bergeser ke:
- Jurnal bereputasi (Scopus Q1–Q2, WoS)
- Topik riset yang relevan secara global
- Metodologi yang kuat dan dapat direplikasi
- Mutu riset berarti karya ilmiah tersebut:
- Dibaca dan dikutip peneliti lain
- Menjadi rujukan kebijakan atau inovasi
- Berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan
Inilah indikator yang paling diperhitungkan dalam pemeringkatan internasional.
Peran Dosen dan Peneliti sebagai Ujung Tombak
Tidak ada riset unggul tanpa peneliti unggul. Dosen bukan hanya pengajar, tetapi produsen pengetahuan. Kampus yang ingin naik peringkat dunia harus:
- Memberi ruang waktu riset yang cukup
- Menyediakan dukungan pendanaan dan fasilitas
- Menghargai riset berkualitas dalam sistem karier dosen
Kampus-kampus yang berhasil biasanya memiliki ekosistem yang mendorong dosen untuk aktif meneliti, menulis, dan berkolaborasi—bukan hanya mengajar secara administratif.
