Indonesia sedang bergerak lebih serius dalam mendorong kampus-kampus nasional menuju level World Class University. Arah ini terlihat dari diskusi kebijakan Kemdiktisaintek yang menekankan bahwa penguatan kampus berkelas dunia tidak cukup hanya lewat jargon internasionalisasi, tetapi harus ditopang kepemimpinan akademik yang kuat, budaya riset yang hidup, kolaborasi dengan industri, dan model pendanaan yang berkelanjutan. Pemerintah juga menyebut upaya ini perlu diterjemahkan ke level nasional, institusi, hingga individu dosen dan peneliti, artinya transformasi tidak boleh berhenti di level wacana pimpinan kampus saja.
Yang menarik, dorongan menuju kampus kelas dunia ini datang di saat persaingan global pendidikan tinggi makin ketat. Dalam QS World University Rankings 2026, ada 26 universitas Indonesia yang masuk daftar peringkat dunia, dengan Universitas Indonesia berada di posisi 189. Angka ini menunjukkan bahwa Indonesia sudah punya pijakan, tetapi juga memberi pesan bahwa ruang untuk naik masih sangat besar. Apalagi QS 2026 mencakup lebih dari 1.500 universitas dari lebih 100 lokasi di seluruh dunia, jadi kompetisinya benar-benar padat.
Kampus Harus Berubah dari Tempat Belajar Menjadi Mesin Inovasi
Kalau ingin benar-benar menembus kelas dunia, kampus Indonesia tidak bisa hanya kuat di ruang kuliah. Kampus harus berubah menjadi mesin inovasi. Artinya, riset tidak boleh hanya selesai di jurnal atau seminar, tetapi juga harus terhubung dengan kebutuhan industri, masyarakat, dan tantangan masa depan. Karena itu, arah transformasi kampus hari ini sebenarnya bukan cuma tentang mengejar nama besar, melainkan membangun ekosistem yang produktif: dosen kuat meneliti, mahasiswa aktif berkarya, industri mau berkolaborasi, dan hasil akademik punya dampak nyata.
Menurut saya, ini titik yang paling penting. Banyak orang terlalu cepat menerjemahkan World Class University sebagai urusan ranking semata. Padahal ranking hanyalah cermin akhir. Yang lebih penting justru dapurnya: kualitas dosen, budaya akademik, jejaring global, keberanian membangun riset unggulan, dan kemampuan kampus menjawab kebutuhan zaman. Kalau dapurnya kuat, reputasi biasanya ikut naik.
