Tracer Study: Apa Itu dan Mengapa Alumni Wajib Mengisinya?
bimus – Masih ingat momen euforia saat toga dilempar ke udara? Rasanya dunia ada di genggaman. Namun, putar waktu ke enam bulan atau satu tahun setelah wisuda. Mungkin Anda sedang sibuk mengejar deadline di perusahaan multinasional, sedang merintis startup impian, atau mungkin masih berjuang mengirimkan ratusan CV yang belum berbalas.
Tiba-tiba, sebuah email atau pesan WhatsApp dari kampus almamater masuk ke ponsel Anda. Isinya meminta Anda mengisi kuesioner panjang bernama Tracer Study. Reaksi pertama Anda mungkin, “Duh, buat apa sih? Ribet banget, kayak skripsi jilid dua.” Atau mungkin Anda berpikir kampus hanya sedang “kepo” dengan gaji Anda.
Tahan dulu skeptisisme itu. When you think about it, survei ini bukan sekadar formalitas birokrasi. Ini adalah nadi yang menghubungkan masa lalu akademis Anda dengan realitas dunia profesional. Jika Anda pernah mengeluh, “Kenapa sih dulu di kampus nggak diajarin skill ini?”, maka mengabaikan pendataan alumni adalah cara terbaik untuk membiarkan junior Anda mengalami nasib yang sama. Mari kita bedah tuntas apa sebenarnya makhluk bernama tracer study ini dan mengapa partisipasi Anda jauh lebih berharga daripada yang Anda kira.
1. Bukan Sekadar “Kepo”, Ini Definisi Sebenarnya
Mari kita luruskan persepsinya. Tracer study atau studi penelusuran alumni bukanlah alat bagi kampus untuk memata-matai privasi Anda. Secara definisi, ini adalah metode riset terstandarisasi yang dilakukan oleh perguruan tinggi—dan didorong kuat oleh Kemendikbudristek—untuk mendapatkan data akurat mengenai transisi lulusan dari dunia pendidikan tinggi ke dunia kerja.
Bayangkan ini sebagai “GPS terbalik”. Kampus ingin melacak jejak (trace) ke mana lulusannya pergi. Apakah mereka bekerja sesuai bidang studinya (linear)? Berapa lama waktu tunggu (waiting period) yang mereka butuhkan untuk mendapatkan pekerjaan pertama?
Dalam konteks yang lebih luas, pendataan alumni ini adalah potret jujur tentang kualitas pendidikan. Tanpa data ini, kampus berjalan dengan mata tertutup, tidak tahu apakah lulusan yang mereka cetak adalah “macan” di industri atau justru kesulitan bersaing. Jadi, ini bukan tentang kepo, ini tentang evaluasi diri institusi.
2. Raport Kampus Ada di Tangan Alumni
Pernahkah Anda merasa bangga ketika melihat peringkat kampus Anda naik di daftar universitas terbaik nasional? Atau sebaliknya, merasa minder karena akreditasi jurusan turun? Nah, di sinilah peran vital Anda.
Hasil dari tracer study adalah salah satu komponen utama dalam penilaian akreditasi oleh BAN-PT (Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi) dan lembaga akreditasi internasional. Pemerintah menggunakan data ini sebagai Indikator Kinerja Utama (IKU). Poin-poin seperti “persentase lulusan yang langsung bekerja” atau “rata-rata gaji pertama” adalah data emas.
Jika alumni malas mengisi data, statistik kampus akan terlihat buruk. Akibatnya? Akreditasi bisa turun. Imagine you’re applying for a job, dan HRD melihat akreditasi jurusan Anda turun dari A ke B atau C. Tentu itu akan mempengaruhi nilai jual ijazah Anda juga, bukan? Jadi, mengisi survei ini sebenarnya adalah cara egois yang cerdas untuk menjaga gengsi ijazah Anda sendiri.
3. Memutus Mata Rantai “Salah Jurusan” dan Kurikulum Jadul
Salah satu keluhan abadi fresh graduate adalah adanya gap atau kesenjangan antara apa yang dipelajari di kelas dengan apa yang dibutuhkan industri. Anda belajar teori A sampai Z, tapi ternyata di kantor yang dipakai adalah aplikasi X yang tidak pernah disentuh dosen.
Melalui tracer study, kampus mendapatkan umpan balik nyata tentang kompetensi. Apakah soft skill seperti komunikasi dan kepemimpinan lebih dibutuhkan daripada hafalan teori?
Data yang Anda masukkan—misalnya kritik bahwa “Mata kuliah X sudah tidak relevan”—akan diolah menjadi dasar revisi kurikulum. Dengan berpartisipasi dalam pendataan alumni, Anda sedang menyelamatkan adik tingkat Anda dari mempelajari hal-hal usang. Anda membantu kampus merancang materi kuliah yang lebih up-to-date dan sesuai tuntutan zaman.
4. Jembatan Link and Match dengan Industri
Dunia kerja itu keras, Bung. Seringkali, “orang dalam” atau networking menjadi kunci pembuka pintu kesempatan. Tracer study berfungsi sebagai peta persebaran alumni yang sangat kuat.
Ketika kampus tahu bahwa banyak alumninya bekerja di sektor e-commerce atau BUMN tertentu, mereka bisa membangun kerjasama strategis (MoU) dengan perusahaan-perusahaan tersebut. Ini membuka jalan bagi program magang, campus hiring, hingga beasiswa untuk mahasiswa aktif.
Secara tidak langsung, data yang Anda berikan membangun ekosistem karier yang lebih sehat. Kampus tidak lagi sekadar “pabrik sarjana”, tetapi menjadi mitra industri. Dan siapa tahu? Perusahaan tempat Anda bekerja mungkin akan mendapatkan suplai talenta terbaik dari almamater Anda sendiri berkat data yang Anda isikan.
5. Mitos Privasi: Data Saya Aman Nggak?
Di era kebocoran data yang marak terjadi, wajar jika Anda was-was memberikan informasi detail seperti nominal gaji, nama perusahaan, dan posisi jabatan. “Nanti data saya dijual ke pinjol lagi?”
Faktanya, data dalam tracer study dikelola dengan kode etik penelitian yang ketat. Informasi yang dipublikasikan biasanya bersifat agregat atau statistik, bukan data individual. Misalnya, laporan akan berbunyi: “Rata-rata gaji lulusan Teknik Informatika tahun 2024 adalah Rp 8 juta”, bukan “Budi Santoso gajinya Rp 8 juta”.
Tujuan utamanya adalah pemetaan kebijakan, bukan komersial. Namun, pastikan Anda mengisi survei melalui kanal resmi universitas (biasanya domain .ac.id) untuk memastikan keamanan data Anda.
6. Kejujuran adalah Kunci: Pengangguran pun Perlu Lapor
Ada fenomena psikologis menarik di sini: alumni yang sukses cenderung lebih rajin mengisi pendataan alumni, sementara yang masih mencari kerja (jobseeker) atau yang bekerja tidak sesuai jurusan merasa malu dan enggan mengisi.
Padahal, data dari Anda yang belum bekerja justru sangat krusial. Kampus perlu tahu hambatannya. Apakah karena kurang info lowongan? Kurang sertifikasi bahasa Inggris? Atau career center kampus yang kurang aktif?
Jika Anda jujur mengisi status “belum bekerja”, kampus yang baik akan merespons dengan memberikan pelatihan tambahan, job fair, atau akses ke jaringan alumni. Jangan biarkan rasa gengsi menghalangi perbaikan sistem. Kejujuran Anda adalah data berharga untuk evaluasi kelemahan institusi.
Lima Menit untuk Masa Depan Almamater
Pada akhirnya, mengisi kuesioner tracer study mungkin memakan waktu 10 hingga 15 menit dari hidup Anda. Terasa membosankan? Mungkin. Tapi dampak dari 15 menit tersebut bergulir jauh ke masa depan. Ia menjaga nilai akreditasi ijazah di lemari Anda, ia membantu merevisi kurikulum usang yang menyiksa mahasiswa, dan ia membuka jalan bagi reputasi kampus yang lebih baik di mata dunia.
Jadi, ketika notifikasi pendataan alumni itu muncul lagi di layar ponsel Anda, jangan buru-buru menekan tombol delete. Luangkan waktu sejenak sambil menyeruput kopi. Anggaplah ini sebagai bentuk bakti intelektual terakhir Anda pada tempat yang pernah menempa Anda menjadi seperti sekarang. Karena kampus yang hebat tidak hanya dibangun oleh gedung yang megah, tapi oleh alumni yang peduli.




