Setiap tahun, pemeringkatan universitas tingkat regional maupun global selalu menarik perhatian publik. Di kawasan Asia Tenggara (ASEAN), daftar deretan kampus terbaik kerap didominasi oleh universitas dari Singapura, Malaysia, dan Thailand. Yang kerap memantik diskusi adalah satu fakta pahit: belum ada satu pun kampus dari Indonesia yang menembus jajaran teratas kampus terbaik ASEAN dalam berbagai pemeringkatan regional tertentu. Fakta ini bukan sekadar soal gengsi, tetapi menjadi cermin tantangan besar bagi ekosistem pendidikan tinggi Indonesia.
Peta Persaingan Kampus di ASEAN
Dalam lanskap ASEAN, universitas-universitas unggulan memiliki ciri yang relatif serupa: ekosistem riset yang kuat, kolaborasi internasional yang intens, publikasi ilmiah berdampak tinggi, serta tata kelola kampus yang efisien. Kampus di Singapura dikenal unggul dalam riset dan kolaborasi industri global. Malaysia agresif membangun universitas riset dengan dukungan kebijakan yang konsisten. Thailand menonjol dalam riset terapan dan jejaring internasional di Asia. Sementara itu, Indonesia memiliki jumlah kampus yang sangat besar dan basis mahasiswa yang masif. Namun, keunggulan kuantitatif ini belum otomatis bertransformasi menjadi daya saing kualitas di tingkat regional.
Mengapa Kampus Indonesia Tertinggal di Papan Atas?
Ada beberapa faktor struktural yang sering menjadi penghambat:Â
- Pertama, kualitas dan produktivitas riset. Publikasi internasional bereputasi masih timpang jika dibandingkan dengan negara tetangga. Budaya riset belum merata, dan insentif bagi dosen peneliti belum selalu berkelanjutan.Â
- Kedua, kolaborasi global yang terbatas. Kampus top ASEAN memiliki jaringan kolaborasi riset lintas negara yang kuat. Di Indonesia, kerja sama internasional berkembang, tetapi belum terorkestrasi secara strategis dan berkelanjutan.Â
- Ketiga, tata kelola dan pendanaan. Universitas unggulan di ASEAN mendapatkan dukungan kebijakan jangka panjang dan pendanaan riset yang konsisten. Di Indonesia, pendanaan riset sering terfragmentasi dan bergantung pada siklus program.Â
- Keempat, internasionalisasi kampus. Daya tarik bagi mahasiswa dan dosen asing masih terbatas karena faktor bahasa, fasilitas riset, serta ekosistem akademik global yang belum sepenuhnya kompetitif.
