Pelaporan Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT) pajak sering dianggap rumit oleh banyak orang, termasuk sivitas akademika di lingkungan kampus. Dosen, tenaga kependidikan, hingga mahasiswa yang sudah memiliki penghasilan kerap merasa bingung dengan prosedur administrasi perpajakan: mulai dari cara mengisi SPT, memahami kewajiban pajak, hingga menggunakan layanan pelaporan daring. Untuk menjembatani tantangan ini, Kantor Pelayanan Pajak (KPP) membuka Pojok Pajak di kampus sebagai bentuk layanan jemput bola yang memudahkan sivitas akademika melaporkan SPT secara tepat waktu dan benar. Inisiatif ini tidak hanya soal mempermudah administrasi, tetapi juga bagian dari upaya membangun kesadaran pajak sejak dini di lingkungan pendidikan tinggi. Kampus menjadi ruang strategis untuk menumbuhkan literasi pajak, karena di sanalah generasi profesional masa depan dibentuk.
Mengapa Pelaporan SPT Masih Jadi Tantangan di Kampus?
Meski sistem pelaporan pajak kini semakin digital, tantangan tetap dirasakan banyak orang. Di lingkungan kampus, kendala yang sering muncul antara lain:
- kurangnya pemahaman tentang kewajiban pajak
- kebingungan menggunakan aplikasi atau layanan daring
- keterbatasan waktu karena aktivitas akademik
- anggapan bahwa urusan pajak rumit dan memakan energi
Bagi dosen dan tenaga kependidikan, kesibukan mengajar, meneliti, dan mengelola administrasi sering membuat urusan pajak tertunda. Bagi mahasiswa yang mulai bekerja paruh waktu atau menjalankan usaha kecil, pelaporan SPT bisa terasa asing dan membingungkan. Di sinilah Pojok Pajak Kampus menjadi relevan: menghadirkan bantuan langsung di tempat yang mudah diakses.
Pojok Pajak: Layanan Jemput Bola yang Lebih Humanis
Pojok Pajak di kampus merupakan bentuk pendekatan jemput bola dari KPP. Alih-alih menunggu wajib pajak datang ke kantor pajak, petugas hadir langsung di lingkungan kampus untuk memberikan:
- pendampingan pengisian SPT
- penjelasan kewajiban pajak
- bantuan teknis penggunaan layanan digital
- edukasi singkat tentang hak dan kewajiban perpajakan
Pendekatan ini membuat proses pelaporan terasa lebih humanis. Sivitas akademika bisa bertanya langsung, mengklarifikasi kebingungan, dan menyelesaikan kewajiban pajaknya tanpa harus meninggalkan aktivitas kampus terlalu lama. Ini juga membantu mengurangi hambatan psikologis: rasa takut salah isi atau khawatir prosedurnya rumit.
