Universitas Muhammadiyah Yogyakarta atau UMY memberi pandangan menarik terkait keterlibatan perguruan tinggi dalam program Makan Bergizi Gratis atau MBG. Alih-alih membangun dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi di lingkungan kampus, UMY menilai perguruan tinggi akan lebih tepat jika berperan sebagai mitra kajian, evaluasi, riset, dan pendampingan akademik.
Pandangan ini disampaikan Wakil Rektor UMY Bidang Sumber Daya, Prof. Dr. Dyah Mutiarin, M.Si. Menurutnya, kampus tidak harus membangun SPPG sendiri hanya demi menjadi living laboratory. Kampus memiliki keterbatasan lahan, anggaran, dan sumber daya manusia. Di sisi lain, SPPG yang sudah beroperasi di luar kampus juga cukup banyak dan dapat menjadi ruang belajar langsung bagi dosen maupun mahasiswa.
Gagasan ini penting karena menempatkan kampus sesuai fungsi utamanya. Perguruan tinggi bukan sekadar lembaga yang mampu membangun fasilitas, tetapi institusi ilmu pengetahuan yang memiliki kekuatan pada riset, analisis, evaluasi kebijakan, dan pengembangan sumber daya manusia. Dalam konteks MBG, peran seperti ini justru bisa lebih strategis dibanding mengelola dapur operasional.
SPPG dan Program MBG Perlu Dilihat secara Sistemik
Program MBG adalah program besar yang menyentuh banyak aspek. Tidak hanya soal menyediakan makanan, tetapi juga soal gizi, keamanan pangan, distribusi, anggaran, ketepatan sasaran, kualitas bahan baku, manajemen operasional, hingga dampak terhadap anak sekolah. Karena itu, SPPG sebagai unit pelaksana tidak bisa hanya dilihat sebagai dapur produksi makanan.
Di balik satu porsi makanan, ada rantai kerja yang panjang. Bahan pangan harus dipilih dengan baik. Menu harus memenuhi standar gizi. Proses memasak harus higienis. Distribusi harus tepat waktu. Penerima manfaat harus sesuai sasaran. Anggaran harus efisien. Pengawasan harus berjalan. Jika salah satu bagian lemah, tujuan program bisa terganggu.
Inilah ruang yang bisa diisi kampus. Perguruan tinggi memiliki dosen, peneliti, mahasiswa, laboratorium, pusat studi, dan keahlian lintas disiplin. Mereka dapat membantu memastikan program berjalan berbasis data, bukan sekadar rutinitas operasional. UMY mengusulkan agar dosen dari bidang gizi, kesehatan, pertanian, manajemen, dan disiplin lain dapat melakukan kajian akademik terhadap SPPG yang sudah berjalan.
Mengapa Kampus Tidak Harus Membangun Dapur?
Usulan UMY menolak pembangunan dapur SPPG di dalam kampus bukan berarti kampus menolak mendukung MBG. Justru UMY menawarkan model dukungan yang lebih sesuai dengan karakter perguruan tinggi. Membangun dapur membutuhkan lahan, biaya konstruksi, peralatan, tenaga operasional, pengawasan harian, serta sistem manajemen yang tidak sederhana.
Jika kampus memaksakan diri menjadi operator dapur, ada risiko fungsi akademiknya terganggu. Perguruan tinggi bisa terseret terlalu jauh ke urusan operasional yang memakan energi besar. Padahal, kontribusi paling kuat kampus adalah mengkaji, mengevaluasi, memberi rekomendasi, mengembangkan model, dan melatih sumber daya manusia.
Dyah Mutiarin menegaskan bahwa jika tujuan pembangunan SPPG adalah sebagai living laboratory, maka laboratorium hidup itu tidak harus berada di dalam kampus. SPPG yang sudah berjalan di luar kampus dapat dijadikan objek kajian, tempat magang, dan ruang praktik mahasiswa. Dengan demikian, mahasiswa tetap mendapat pengalaman lapangan tanpa kampus harus menanggung beban pembangunan dan operasional dapur baru.
Mitra Kajian: Peran yang Lebih Tepat untuk Perguruan Tinggi
Menjadikan kampus sebagai mitra kajian SPPG adalah langkah yang lebih strategis. Kampus bisa membantu mengevaluasi apakah menu yang diberikan sudah sesuai kebutuhan gizi anak. Mereka bisa mengkaji apakah bahan pangan yang digunakan aman dan berkualitas. Mereka juga bisa melihat apakah biaya per porsi sudah efisien dan apakah distribusi berjalan tepat waktu.
Kajian seperti ini sangat dibutuhkan karena program MBG berskala besar. Semakin besar program, semakin besar pula potensi masalah jika tidak diawasi dengan baik. Kampus dapat menjadi pihak yang memberi masukan berbasis ilmu, bukan kepentingan politik atau sekadar laporan administratif.
UMY menyebut kajian akademik dapat mencakup komposisi gizi, pencegahan keracunan makanan, efisiensi anggaran, hingga ketepatan sasaran penerima manfaat. Ini menunjukkan bahwa peran perguruan tinggi bisa sangat luas. Tidak hanya fakultas kesehatan atau gizi yang terlibat, tetapi juga manajemen, pertanian, ekonomi, kebijakan publik, bahkan teknologi informasi.
Mahasiswa Bisa Magang Langsung di SPPG
Selain riset dosen, UMY juga mengusulkan skema magang mahasiswa di SPPG yang sudah beroperasi. Ini merupakan ide yang sangat relevan. Mahasiswa tidak hanya belajar teori di kelas, tetapi bisa melihat langsung bagaimana program gizi publik dijalankan di lapangan.
Mahasiswa gizi dapat mempelajari penyusunan menu dan standar nutrisi. Mahasiswa kesehatan masyarakat bisa melihat aspek sanitasi dan pencegahan risiko keracunan. Mahasiswa manajemen dapat mempelajari alur produksi, distribusi, dan efisiensi operasional. Mahasiswa pertanian dapat melihat hubungan antara pasokan bahan pangan lokal dan kebutuhan dapur.
Dengan model ini, SPPG menjadi ruang belajar nyata. Kampus tidak harus memiliki dapur sendiri, tetapi tetap bisa menjadikan program MBG sebagai laboratorium sosial, kesehatan, dan kebijakan publik. Skema seperti ini juga lebih hemat karena memanfaatkan fasilitas yang sudah ada.
Fokus pada Tri Dharma Perguruan Tinggi
Pernyataan UMY juga menegaskan pentingnya menjaga fokus Tri Dharma Perguruan Tinggi: pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Kampus dapat mendukung MBG melalui ketiga aspek tersebut tanpa harus menjadi operator dapur.
Dalam aspek pendidikan, mahasiswa dapat belajar langsung dari operasional SPPG. Dalam aspek penelitian, dosen dapat melakukan kajian tentang gizi, anggaran, manajemen, keamanan pangan, dan dampak sosial. Dalam aspek pengabdian, kampus dapat membantu memberi rekomendasi, pelatihan, dan pendampingan kepada pelaksana program.Â
Dengan cara ini, keterlibatan kampus tetap berada pada jalur akademik. Kampus tidak kehilangan identitasnya sebagai pusat ilmu. Justru, kampus dapat memberi nilai tambah yang tidak dimiliki operator dapur biasa: kemampuan membaca masalah secara ilmiah dan memberi solusi berbasis data.
