Kabar bahwa kampus Institut Kesenian Jakarta akan pindah ke Kota Tua sempat memancing banyak perhatian. Wajar saja, karena kampus IKJ bukan sekadar institusi pendidikan biasa. Ia punya sejarah panjang, identitas kuat, dan hubungan yang sangat erat dengan kawasan Cikini sebagai salah satu simpul kebudayaan Jakarta. Ketika muncul isu pemindahan ke Kota Tua, banyak orang langsung bertanya: apakah ini relokasi total, perubahan arah pendidikan seni, atau bagian dari penataan besar Jakarta sebagai kota budaya?
Jawaban dari Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung ternyata cukup tegas. Ia meluruskan bahwa kampus IKJ tidak akan dipindahkan secara penuh dari Cikini ke Kota Tua. Menurutnya, yang sedang disiapkan bukan relokasi kampus utama, melainkan ruang ekspresi tambahan di Kota Tua untuk sivitas akademika IKJ dan para seniman agar bisa berkarya, berpameran, dan menghidupkan kawasan tersebut.
Di titik ini, isu yang tadinya terdengar seperti pemindahan besar ternyata berubah makna. Bukan “IKJ pindah,” melainkan “IKJ diberi panggung baru.” Dan perbedaan itu sangat penting, karena menyangkut cara publik memahami masa depan kampus seni paling ikonik di Jakarta.
IKJ Tetap di Cikini, Tapi Kota Tua Disiapkan Jadi Ruang Ekspresi
Penjelasan Pramono cukup jelas: kampus utama IKJ akan tetap berada di Cikini, Jakarta Pusat. Pemerintah Provinsi DKI tidak sedang menyiapkan relokasi total lembaga tersebut. Namun, pemerintah memang ingin menghadirkan gedung atau ruang yang bisa digunakan IKJ dan komunitas seni untuk berekspresi di Kota Tua.
Kalau dibaca lebih dalam, ini bukan sekadar klarifikasi teknis. Ini juga menunjukkan cara pandang Pemprov DKI terhadap seni dan kota. IKJ dipertahankan di tempat yang selama ini menjadi rumah identitasnya, tetapi jangkauan aktivitas kreatifnya diperluas ke kawasan lain yang juga punya nilai sejarah tinggi. Dengan begitu, Cikini tetap hidup sebagai basis akademik dan kultural, sementara Kota Tua perlahan dibangun sebagai ruang ekspresi publik yang lebih terbuka.
Pendekatan seperti ini terasa jauh lebih masuk akal daripada memindahkan semuanya sekaligus. Dunia pendidikan seni tidak hanya soal gedung kuliah, tetapi juga soal ekosistem, sejarah, dan ingatan kolektif. Cikini bukan tempat yang mudah dilepas begitu saja dari tubuh kampus IKJ. Maka, keputusan mempertahankan kampus utama di sana sambil menambah panggung di Kota Tua terasa seperti jalan tengah yang lebih sehat.
Mengapa Kota Tua Dianggap Menarik untuk IKJ?
Kalau pertanyaannya adalah kenapa Kota Tua yang dipilih, jawabannya cukup mudah dipahami. Kota Tua Jakarta sedang terus didorong menjadi kawasan budaya, ruang kreatif, dan destinasi publik yang lebih hidup. Dalam penjelasan Pramono, wilayah ini memang sedang ditata agar menjadi kawasan yang ramah pejalan kaki, kuat secara identitas sejarah, dan terbuka untuk aktivitas seni. Ia juga menyebut Kota Tua sebagai kawasan yang punya karakter khas, bahkan sempat membandingkannya dengan nuansa Amsterdam.
Dari sudut pandang pengembangan kota, ide menghadirkan aktivitas IKJ di sana terasa logis. Kawasan bersejarah tidak akan benar-benar hidup hanya dengan restorasi bangunan. Ia butuh isi. Ia butuh denyut manusia, karya, pertunjukan, pameran, dan interaksi kreatif yang membuat ruang publik terasa bernapas. Kehadiran mahasiswa seni dan aktivitas dari kampus seperti IKJ bisa memberi energi itu.
Artinya, Kota Tua dilihat bukan sebagai pengganti Cikini, tetapi sebagai panggung kedua. Dan dalam dunia seni, panggung kedua seperti ini bisa sangat berharga. Ia memberi ruang untuk karya bertemu langsung dengan publik yang lebih luas.
Cikini Bukan Sekadar Lokasi, Tapi Bagian dari Jiwa IKJ
Salah satu alasan mengapa isu pemindahan ini langsung memancing respons besar adalah karena Cikini bukan sekadar alamat bagi IKJ. Kawasan itu punya hubungan historis dan emosional yang sangat kuat dengan perkembangan seni di Jakarta. Banyak generasi seniman, pekerja kreatif, dan insan budaya tumbuh dengan bayangan IKJ yang menyatu dengan atmosfer Taman Ismail Marzuki dan Cikini.
Kalau kampus dipindahkan sepenuhnya, yang dikhawatirkan banyak orang bukan cuma soal logistik, tetapi soal putusnya kesinambungan identitas. Institusi seni selalu hidup dari konteks tempatnya. Ia tumbuh dari lingkungan, komunitas, dan sejarah yang mengelilinginya. Karena itu, keputusan untuk tidak merelokasi total IKJ bisa dibaca sebagai upaya menjaga akar tersebut tetap kuat.
Dan ini penting. Sebab dalam pembangunan kota modern, sering kali yang hilang bukan bangunannya, tetapi rohnya. Ketika pemerintah memilih mempertahankan kampus IKJ di Cikini, ada pesan bahwa modernisasi dan penataan kota tidak harus dilakukan dengan mencabut lembaga budaya dari akarnya.
Bukan Relokasi, Tapi Perluasan Ekosistem Seni
Kalau dicermati, isu ini sebenarnya lebih menarik bila dilihat sebagai perluasan ekosistem seni daripada sekadar cerita bantah-membantah. Pramono tidak menutup kemungkinan adanya gedung atau fasilitas untuk IKJ di Kota Tua. Yang ia bantah adalah narasi bahwa kampus akan dipindahkan seluruhnya ke sana.
Ini membuka satu gagasan yang cukup menarik: bagaimana kalau kampus seni memang mulai bekerja dengan model ruang ganda? Satu ruang sebagai basis akademik utama, satu ruang lain sebagai etalase dan laboratorium publik. Dalam model seperti ini, mahasiswa tidak hanya belajar di kelas dan studio, tetapi juga punya tempat untuk mempresentasikan karya di kawasan yang lebih terbuka, historis, dan dekat dengan publik.
Kalau dirancang dengan baik, pendekatan seperti ini justru bisa memperkuat posisi kampus IKJ. Kampus tidak kehilangan rumah utamanya, tetapi memperoleh jangkauan baru. Seni tidak hanya hidup di dalam kampus, tetapi juga menetes ke ruang kota.
Jakarta Sedang Mencari Wajah Budaya yang Lebih Kuat
Di balik isu kampus IKJ dan Kota Tua, sebenarnya ada cerita yang lebih besar: Jakarta sedang terus mencari bentuk dirinya sebagai kota budaya, bukan cuma kota bisnis dan pemerintahan. Penataan Kota Tua, penguatan ruang publik, dan pelibatan institusi seni menunjukkan arah itu. Pemerintah tampaknya ingin agar kawasan bersejarah tidak hanya menjadi tempat wisata pasif, tetapi juga pusat aktivitas kreatif yang benar-benar hidup.
