Kampus sering dibayangkan sebagai tempat belajar, bertumbuh, bertukar gagasan, dan membangun masa depan. Di sana ada dosen, mahasiswa, organisasi, kegiatan akademik, dan kehidupan sosial yang sangat aktif. Namun di balik bayangan ideal itu, ada kenyataan yang sering membuat banyak orang gelisah: kekerasan seksual masih kerap terjadi di lingkungan kampus.
Pertanyaan tentang mengapa hal ini bisa terjadi sebenarnya tidak bisa dijawab dengan satu alasan sederhana. Kekerasan seksual di kampus bukan muncul begitu saja. Ia biasanya lahir dari gabungan banyak faktor: relasi kuasa yang timpang, budaya diam, lemahnya sistem perlindungan, normalisasi perilaku melecehkan, sampai ketidakseriusan institusi dalam menangani laporan. Karena itu, jika ingin memahami masalah ini dengan jujur, kita harus berani melihat bahwa kampus bukan hanya ruang akademik, tetapi juga ruang sosial yang penuh dinamika kekuasaan dan kerentanan.
Membahas isu ini penting bukan untuk menakut-nakuti, tetapi untuk membuka mata bahwa lingkungan pendidikan tinggi tidak otomatis bebas dari kekerasan hanya karena ia disebut tempat intelektual. Justru karena kampus dihuni banyak orang, banyak kepentingan, dan banyak hubungan yang tidak seimbang, risiko kekerasan seksual bisa tumbuh jika tidak dicegah dengan serius.
Relasi Kuasa Sering Menjadi Akar Masalah
Salah satu alasan paling kuat mengapa kekerasan seksual bisa terjadi di kampus adalah adanya relasi kuasa yang timpang. Di lingkungan ini, tidak semua orang berada pada posisi yang setara. Ada dosen dan mahasiswa, senior dan junior, pembimbing dan peserta bimbingan, ketua organisasi dan anggota, bahkan kelompok populer dan kelompok yang lebih rentan. Ketika satu pihak punya kekuasaan lebih besar, sementara pihak lain merasa bergantung, ruang penyalahgunaan bisa terbuka.
Relasi kuasa ini berbahaya karena korban sering tidak merasa bebas untuk menolak atau melawan. Ada yang takut nilainya terpengaruh, takut akses akademiknya dipersulit, takut dijauhkan dari organisasi, takut tidak dipercaya, atau takut justru disalahkan. Dalam situasi seperti itu, kekerasan tidak selalu terjadi lewat ancaman yang kasar. Kadang ia hadir lewat tekanan halus, manipulasi, kedekatan yang dipaksakan, atau situasi yang membuat korban sulit berkata tidak.
Ini sebabnya kampus perlu dilihat bukan hanya sebagai tempat belajar, tetapi juga sebagai struktur sosial yang punya hierarki. Selama hierarki itu tidak diawasi dengan baik, kekuasaan bisa berubah menjadi alat yang menindas.
Budaya Diam Membuat Pelaku Merasa Aman
Masalah lain yang sangat besar adalah budaya diam. Banyak kasus kekerasan seksual tidak langsung muncul ke permukaan karena korban merasa takut, malu, bingung, atau tidak yakin akan didukung. Dalam banyak situasi, korban justru lebih dulu memikirkan akibat sosial dari berbicara daripada kemungkinan keadilan yang akan mereka dapatkan.
Budaya diam ini sering diperkuat oleh lingkungan sekitar. Ada teman yang menyuruh korban untuk tidak memperpanjang masalah. Ada pihak kampus yang khawatir reputasi institusi rusak. Ada orang-orang yang lebih sibuk mempertanyakan sikap korban daripada memeriksa perilaku pelaku. Akibatnya, korban merasa sendirian. Dan ketika korban merasa sendirian, pelaku justru melihat ada ruang aman untuk terus melakukan hal serupa.
Diam bukan berarti tidak ada kasus. Sering kali justru sebaliknya: ada banyak kejadian yang tidak pernah tercatat karena orang merasa melapor hanya akan menambah beban. Inilah yang membuat kekerasan seksual di kampus tampak seperti masalah yang tiba-tiba muncul, padahal sebenarnya ia bisa saja sudah lama berulang di bawah permukaan.
Banyak Orang Masih Salah Paham tentang Kekerasan Seksual
Salah satu hambatan terbesar dalam pencegahan adalah masih banyaknya salah paham tentang apa itu kekerasan seksual. Sebagian orang hanya menganggap kekerasan seksual sebagai tindakan ekstrem yang sangat jelas terlihat. Padahal dalam kenyataan, bentuknya bisa sangat beragam. Ada pelecehan verbal, komentar bernada seksual, sentuhan yang tidak diinginkan, tekanan dalam relasi, intimidasi, penyebaran materi pribadi, sampai pemaksaan yang dibungkus kedekatan.
Karena pemahaman masyarakat sering terlalu sempit, banyak perilaku bermasalah justru dinormalisasi. Orang menyebutnya bercanda. Menganggapnya bagian dari gaya pergaulan. Menganggapnya wajar dalam hubungan senior-junior. Bahkan ada yang menilai korban terlalu sensitif. Ketika batas-batas ini kabur, pelaku lebih mudah bersembunyi di balik alasan bahwa mereka “tidak bermaksud seperti itu”.
Normalisasi semacam ini sangat berbahaya. Ia membuat kampus tidak peka terhadap tanda-tanda awal kekerasan. Padahal banyak kasus besar berawal dari perilaku kecil yang dibiarkan terlalu lama.
Lingkungan Sosial Kampus Bisa Mendorong Kerentanan
Kehidupan kampus punya karakter yang khas. Mahasiswa sedang berada di fase transisi menuju dewasa, mencoba membangun identitas, mencari lingkungan pertemanan, dan sering kali ingin diterima dalam kelompok. Dalam situasi seperti ini, kebutuhan untuk dianggap, diterima, dan dekat dengan lingkungan bisa membuat seseorang lebih rentan terhadap tekanan.
Kegiatan organisasi, kepanitiaan, mentoring, tugas kelompok, bimbingan akademik, hingga acara nonformal bisa menciptakan banyak ruang pertemuan. Di satu sisi, ini baik karena membangun relasi sosial. Namun di sisi lain, jika tidak ada batas yang sehat, ruang-ruang ini bisa menjadi celah penyalahgunaan. Apalagi bila ada budaya yang terlalu memaklumi kedekatan tanpa persetujuan yang jelas atau terlalu menoleransi perilaku invasif atas nama keakraban. Masalahnya bukan pada interaksi sosial itu sendiri, melainkan pada absennya kesadaran dan perlindungan. Ketika lingkungan kampus aktif tetapi tidak punya standar etika yang jelas, kerentanan meningkat.
Korban Sering Takut Karena Respons Lingkungan Tidak Ramah
Mengapa kekerasan seksual bisa terus terjadi? Salah satu jawabannya adalah karena korban sering melihat bahwa melapor bukan jalan yang aman. Banyak korban takut tidak dipercaya. Takut ditanya hal-hal yang menyudutkan. Takut namanya tersebar. Takut diperlakukan seolah merekalah sumber masalah. Bahkan tidak sedikit yang takut dianggap merusak nama baik kampus.
Respons yang tidak ramah terhadap korban adalah masalah besar. Begitu ada pertanyaan seperti “kenapa baru sekarang bicara?”, “kenapa mau ikut ke sana?”, atau “apa tidak salah paham?”, fokus pembicaraan langsung bergeser dari tindakan pelaku ke perilaku korban. Ini membuat korban merasa harus membela diri lebih dulu sebelum bisa didengar. Dalam kondisi seperti itu, banyak orang akhirnya memilih diam.
Ketika korban tidak merasa aman, maka sistem perlindungan sebenarnya gagal sejak awal. Dan kalau sistem gagal membuat korban merasa aman, kekerasan akan lebih mudah berulang.
