Mendiktisaintek: Tendik Berperan Krusial Wujudkan Kampus Berkualitas
Berita Kampus

Mendiktisaintek: Tendik Berperan Krusial Wujudkan Kampus Berkualitas

Kalau orang membicarakan kualitas kampus, yang paling sering muncul biasanya dosen, kurikulum, akreditasi, laboratorium, atau prestasi mahasiswa. Semua itu memang penting. Tetapi ada satu elemen yang sangat sering luput dari sorotan, padahal perannya menentukan denyut harian perguruan tinggi: tenaga kependidikan, atau tendik. Karena itu, ketika Mendiktisaintek Brian Yuliarto menegaskan bahwa tendik berperan krusial dalam mewujudkan kampus berkualitas, pernyataan itu sebenarnya bukan sekadar basa-basi seremonial. Itu adalah penegasan bahwa kualitas perguruan tinggi tidak mungkin berdiri kokoh tanpa sistem pendukung yang profesional, adaptif, dan berjalan baik.

Dalam laporan terbaru, Brian Yuliarto menekankan bahwa tendik adalah elemen penting dalam mendukung kualitas sistem pendidikan tinggi. Ia juga menyampaikan bahwa transformasi pendidikan tinggi menuntut perubahan cara kerja yang lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan layanan yang makin cepat, sehingga fungsi tendik tidak lagi sebatas administrasi, tetapi bisa menjadi lokomotif perbaikan sistem. Program penguatan tendik yang didorong Kemdiktisaintek pun menyasar berbagai peran strategis, mulai dari pranata laboratorium pendidikan, pustakawan, pranata humas, analis SDM, analis kebijakan, arsiparis, hingga pranata komputer.

Kalau dibaca dengan jernih, pesan ini sangat kuat. Kampus berkualitas tidak hanya dibangun oleh orang-orang yang tampil di ruang kelas, tetapi juga oleh mereka yang memastikan semua sistem di belakangnya benar-benar berjalan. Dari layanan akademik, pengelolaan laboratorium, perpustakaan, teknologi informasi, pengarsipan, sampai layanan mahasiswa, semuanya bertumpu pada kualitas kerja tendik. Tanpa mereka, kampus mungkin tetap berdiri, tetapi sulit bergerak dengan rapi, cepat, dan bermutu.

Kualitas Kampus Selalu Ditentukan oleh Kualitas Sistem

Banyak perguruan tinggi masih terjebak pada cara pandang lama: kampus dianggap unggul jika punya dosen hebat, mahasiswa berprestasi, dan gedung bagus. Padahal kualitas kampus modern juga sangat ditentukan oleh kualitas sistem. Mahasiswa hari ini tidak hanya menilai kampus dari isi kuliah, tetapi juga dari kualitas layanan, kecepatan respons, kemudahan administrasi, pengelolaan data, dukungan teknologi, sampai seberapa nyaman mereka berurusan dengan birokrasi kampus.

Di sinilah tendik menjadi sangat penting. Tendik adalah wajah sistem. Mereka yang membuat proses akademik tidak berantakan. Mereka yang menjaga agar layanan tidak putus. Mereka yang memastikan bahwa mesin kampus benar-benar bekerja, bukan sekadar tampak meyakinkan dari luar. Ketika pendaftaran mahasiswa baru lancar, layanan akademik responsif, laboratorium siap dipakai, dokumen tertata, pusat data aman, dan komunikasi internal berjalan baik, di situ ada kontribusi tendik yang sering tidak terlihat.

Karena itu, pernyataan Mendiktisaintek soal peran krusial tendik seharusnya dibaca sebagai koreksi terhadap cara pandang yang terlalu sempit tentang mutu pendidikan tinggi. Kampus yang baik bukan hanya kampus yang kuat secara akademik, tetapi juga kampus yang tertata secara kelembagaan. Dan ketertataan itu sangat bergantung pada kualitas tenaga kependidikannya.

Peran Tendik Sudah Jauh Melampaui Administrasi

Salah satu poin paling penting dari arahan Brian Yuliarto adalah bahwa tendik kini tidak bisa lagi dipahami hanya sebagai pelaksana administrasi rutin. Menurut Kemdiktisaintek, transformasi pendidikan tinggi menuntut tendik menjadi lebih adaptif dan berperan dalam pembenahan sistem. Ini berarti posisi mereka berubah: dari sekadar pelaksana teknis menjadi salah satu penggerak perbaikan kampus.

Perubahan ini sangat relevan dengan situasi perguruan tinggi saat ini. Kampus hidup di tengah tekanan digitalisasi, tuntutan layanan cepat, kompetisi global, kebutuhan integrasi data, dan ekspektasi mahasiswa yang makin tinggi. Dalam situasi seperti ini, pekerjaan administratif biasa tidak cukup. Kampus butuh tendik yang bisa berpikir sistemik, memahami teknologi, dan ikut membaca kebutuhan institusi secara lebih luas.

Misalnya, pranata komputer bukan lagi sekadar orang yang mengurus perangkat. Ia sekarang berperan dalam keamanan data, efisiensi layanan digital, dan kelancaran ekosistem informasi kampus. Pustakawan bukan lagi sekadar penjaga rak buku, tetapi pengelola akses pengetahuan di era digital. Arsiparis bukan sekadar penyimpan berkas, tetapi penjaga memori kelembagaan dan tata kelola informasi. Semua ini menunjukkan bahwa peran tendik hari ini jauh lebih strategis daripada bayangan lama tentang “pegawai administrasi kampus.”

Transformasi Kampus Butuh Tendik yang Adaptif

Kemdiktisaintek juga menekankan bahwa perubahan pendidikan tinggi sekarang menuntut cara kerja yang lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan layanan. Ini berarti, kampus yang ingin maju harus memperlakukan penguatan tendik sebagai bagian dari strategi transformasi, bukan sekadar program pelengkap.

Adaptif di sini bukan cuma soal bisa memakai komputer atau aplikasi baru. Adaptif berarti mampu berpindah dari budaya kerja lambat ke budaya kerja yang lebih lincah. Mampu merespons perubahan regulasi tanpa membuat layanan lumpuh. Mampu mengelola sistem digital tanpa kehilangan sentuhan pelayanan. Dan yang tidak kalah penting, mampu menjadi penghubung antara kebutuhan pimpinan, dosen, mahasiswa, serta sistem birokrasi yang terus berkembang.

Kalau kampus ingin kualitasnya meningkat, maka kemampuan adaptasi ini tidak bisa hanya ditaruh di pundak dosen atau pimpinan. Tendik harus ikut tumbuh. Sebab dalam praktik sehari-hari, justru mereka yang paling dekat dengan operasi riil kampus. Mereka yang paling sering bersentuhan dengan detail kecil yang menentukan apakah suatu kebijakan berjalan mulus atau malah macet di lapangan.

Kampus Berkualitas Adalah Kampus yang Layanannya Bermutu

Kualitas kampus sering dibayangkan dalam bentuk prestasi besar. Tetapi bagi mahasiswa dan masyarakat, kualitas juga sangat terasa dalam hal-hal yang tampak sederhana: mudah tidaknya mengurus dokumen, cepat tidaknya mendapat layanan, jelas tidaknya informasi, tertata tidaknya sistem akademik, dan aman tidaknya pengelolaan data. Semua itu ada di wilayah kerja tendik.

Related posts

Manfaat Kegiatan Ekstrakurikuler bagi Mahasiswa di Kampus

admin

Struktur Organisasi Kampus: Pilar Penting dalam Mewujudkan Visi dan Misi Universitas

admin

Strategi Meningkatkan Kualitas Pendidikan di Era Digital

admin

Program Pertukaran Mahasiswa: Pengalaman Global di Universitas untuk Masa Depan

admin

Universitas Muhammadiyah Surakarta: Pilar Pendidikan Unggulan Berbasis Islam

admin

Dari Ide ke Realitas: Peran Penelitian dalam Inovasi Teknologi

admin